Posted by: satudeako | January 23, 2011

Pura Petitenget

Mendengar nama Pura Peti Tenget, kita membayangkan sebuah pura yang terdapat sebuah peti yang keramatgker. Kata “Tenget” berarti angker. Pura ini terletak di desa Kerobokan, kabupaten Badung, Bali, sekitar 10 km arah Barat Daya kota Denpasar. Terletak di tepi pantai Peti Tenget (yang oleh penduduk sekitar sering juga disebut pantai Petitengan) yang indah dan tidak seramai pantai Kuta. Dari pantai ini kita bisa melihat para turis di pantai Kuta di arah Selatan.
Sejarah Pura ini dimulai sekitar abad XV, setelah Dang Hyang Dwijendra meninggalkan pulau Serangan bersama Ida Bhatara yang berstana di Labuhan Masceti, akhirnya beliau sampai di desa Kerobokan dan melihat bayangan hitam yang bersembunyi di semak-semak. Beliau memanggil dengan tenang ternyata bayangan itu adalah I Bhuta Ijo, anak buah Ida Bhatara Labuhan Masceti.
Sebelum meninggalkan desa Kerobokan menuju ke bukit Selatan, beliau menitipkan sebuah peti tempat sirih (pecanangan) kepada Bhuta Ijo dan meminta agar menjaga peti tersebut. Kemudian Beliau melanjutkan perjalanan ke Anjungan Bukit Selatan. Kmudian datang orang dari desa Kerobokan yang menyampaikan bahwa ada tanah tegalan yang “Tenget” (angker) karena setiap ada yang berani masuk ke tanah tegalan tersebut akan mengalami sakit. Bahkan di sekitar tanah tersebut pun terasa menakutkan. Pedanda Wawu rauh mengatakan bahwa yang menyebabkan tanah tersebut angker karena disana tinggal Maya Siluman yang bernama I Bhuta Ijo. Beliau sendiri yang memberi kesaktian kepada Bhuta Ijo untuk menjaga peti sirih beliau. Untuk mengatasi masalah itu, dibuatkan Palinggih Pasimpangan (bangunan suci) untuk sthana Ida Bhatara Labuhan Masceti, dan pagedongan untuk stana I Bhuta Ijo. Juga agar diberikan suguhan nasi sasahan, berisi jeroan, darah babi, tuwak dan arak yang diberikan sore hari. Akhirnya pura tersebut diberi nama Pura Peti Tenget. Warga desa Kerobokan sebagai warga utama dari pura ini.
Pura ini dibangun di sebidang tanah yang lebih tinggi dari pada tanah di sekitarnya. Di sebelah Barat pura terbentang pantai Peti Tenget yang indah. Pada Hari Melasti/Mekiyis, pantai ini merupakan tempat untuk Melis bagi warga desa adat Kerobokan, Padangsambian serta Dalung. Sekitar sepuluh tahun yang lalu, di sekitar pura ini masih dipenuhi oleh banyak pepohonan besar dan persawahan. Saat ini, sangat dekat di sebelah Selatan pura ini telah dibangun sebuah hotel.
Upacara Piodalan di Pura Petitenget jatuh pada hari Rabu, Wage, wuku Merakih . Piodalan ini datangnya setiap 6 bulan (210 hari) sekali menurut perhitungan kalender Bali.  (wahyu adi pradana, 085737083475)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: