Posted by: satudeako | January 25, 2011

Monumen Margarana

Pada Tanggal 20 November 1946 terjadilah pertempuran habis-habisan antara pasukan pejuang Republik Indonesia melawan kaum penjajah Belanda,di Banjar Kelaci, Desa Marga di bawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai. Pertempuran ini terkenal dengan nama Perang Puputan Margarana.

I Gusti Ngurah Rai beserta segenap pasukannya gugur didalam pertempuran tersebut dan seluruh abu jenazah para pahlawan bangsa ini dimakamkan di sini, yang terletak kurang lebih 25 km dari Denpasar atau kurang lebih 10 km dari kota Tabanan.

Di Candi Pahlawan ini kita dapat menyaksikan beberapa tulisan yang merupakan surat dari I Gusti Ngurah Rai bersama seluruh anggota pasukannya yang terkenal dengan sebutan CIUNG WANARA tidak akan mau berkompromi atau menyerah kepada penjajah.

Perjalanan kali ini kita akan mengenal objek sejarah dan juga tempat wisata di kabupaten Tabanan, yaitu Puputan Margarana. Perjalanan kurang lebih 20 menit dari pusat kota Tabanan dan 1 jam dari Kuta.

Sebelum memasuki tempat ini, di depannya tertera nama-nama prajurit yang gugur dalam perjuangan bersama I Gusti Ngurah Rai. Pasukan pendukung Gusti Ngurah Rai dikenal dengan nama “Ciung Wanara”.Totalnya kurang lebih 1372 dan pejuangnya berasal dari seantero Bali.

Beliau memiliki pasukan yang bernama “Ciung Wenara” melakukan
pertempuran terakhir yang dikenal dengan nama Puputan Margarana.
(Puputan, dalam bahasa bali, berarti “habis-habisan”, sedangkan
Margarana berarti “Pertempuran di Marga”; Marga adalah sebuah desa
ibukota kecamatan di pelosok Kabupaten Tabanan, Bali)

Bersama 1.372 anggotanya pejuang MBO (Markas Besar Oemoem) Dewan
Perjoeangan Republik Indonesia Sunda Kecil (DPRI SK) dibuatkan nisan di
Kompleks Monumen de Kleine Sunda Eilanden, Candi Marga,
Tabanan. Detil perjuangan I Gusti Ngurah Rai dan resimen CW dapat
disimak dari beberapa buku, seperti “Bergerilya Bersama Ngurah Rai”
(Denpasar: BP, 1994) kesaksian salah seorang staf MBO DPRI SK, I Gusti
Bagus Meraku Tirtayasa peraih “Anugrah Jurnalistik Harkitnas 1993″,
buku “Orang-orang di Sekitar Pak Rai: Cerita Para Sahabat Pahlawan
Nasional Brigjen TNI (anumerta) I Gusti Ngurah Rai” (Denpasar: Upada
Sastra, 1995), atau buku “Puputan Margarana Tanggal 20 Nopember 1946″
yang disusun oleh Wayan Djegug A Giri (Denpasar: YKP, 1990).

Memasuki kawasan ini, kita akan melihat monument lengkap dengan photo pahlawan nasional ini. Di sebelah photo tertera surat dari Gusti Ngurah Rai yang ditujukan kepada Belanda (Nica) bahwa kemerdekaan adalah hak warga Indonesia dan kehadiran Belanda dan sekutu hanya menyebabkan penderitaan rakyat. Beliau juga menolak untuk berunding karena menyerahkan sepenuhnya kepada pimpinan di Jawa.

Monumen ini seluas sembilan hektar, terbagi menjadi tiga bagian mengikiti konsep Tri Mandala yakni hulu, tengah dan hilir sebagai berikut.
1. Dibagian hulu ( utara ) dengan luas areal empat hektar, merupakan komplek bangunan suci yang disebut Taman Pujaan Bangsa, terdiri atas bangunan – bangunan sebagai berikut :
- Candi Pahlawan Margarana ; berdiri megah setinggi 17 meter, disini terpahat secara berangkai isi surat Jawaban I Gusti Ngurah Rai ( Pemimpin Dewan Pejuang Bali ) kepada Overste Termeulen ( Belanda ), yang menggambarkan kebesaran jiwa perjuangan dan patriotisme bangsa Indonesia umumnyta dan masyarakat Bali khususnya.
- Pelataran Upacara ; diapit oleh dub alai peristirahatan ( dibagian timur dan barat )
- Patung Panca Bakti ; terletak dibagian selatan pelataran upacara, setelah pinti gerbang masuk, menggambarkan persatuan dan kesatuan seluruh rakyat dalam perjuangan kemerdekaan.
- Taman Bahagia ; terletak disebelah utara dan Timur Laut Candi Pahlawan Margarana, yang terdiri dari 1372 nisan atau tugu pahlawan yang menunjukkan jumlah pejuang yang gugur di medan laga selama revolusi fisik di Bali, sebagai pahlawan perang kemerdekaan RI, termasuk sebuah nisan untuk pahlawan tidak dikenal.
- Gedung Sejarah ; terletak di sebalah Timur Candi Pahlawan Margarana, sebagai tempat penyimpanan benda – benda sejarah perjuangan.
- Taman Suci ; berlokasi disebelah selatan gedung sejarah, merupakan tempat penyucian diri bagi para pengunjung yang hendak melaksanakan perziarahan/kebaktian.
2. Di bagian tengah atau di sebelah Selatan Taman Pujaan Bangsa dengan luas areal satu hektar, disebut Taman Seni Budaya, terdiri atas bangunan : wantilan, warung kopi dan rencana akan dibangun took souvenir.
3. Dibagian Hilir ( Selatan ) dengan luas empat hektar, disebut Taman Karya Alam, dan disini direncanakan akan dibangun Bumi Perkemahan Remaja.
Ada juga perpustakaan yang menampilkan photo-photo dan kisah-kisah perjalanan dan perjuangan Gusti Ngurah Rai juga.

Untuk menghormati jasa-jasa beliau, nama I Gusti Ngurah Rai kemudian diabadikan menjadi nama airport satu-satunya di Bali dan juga jalan utama di Bali. Tidak lupa juga terdapat event di mana setiap tanggal 20 november terdapat upacara penyerahan surat sakti yang dilakukan oleh pasukan ciung wanara yang dilakukan oleh siswa SMA dan SMK. Kemudian dari tanggal 19 – 21 november, di mana pada malam harinya terdapat carnival untuk memeriahkan hari peringatan puputan margarana.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: